ANALISIS TEKS

December 27, 2009

A. Koreksi Kesalahan Ejaan
Di dalam kenyataan penggunaan bahasa, masih banyak kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca. Penyebabnya, antara lain ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan sebelumnya yaitu tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat perhentian sebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan intonasi naik.
Di dalam konsep pengertian lama tanda baca berhubungan dengan bagaimana melisankan bahasa tulis, sedangkan dalam ejaan sekarang tanda baca berhubungan dengan bagaimana memahami tulisan (bagi pembaca) atau bagaimana memperjelas isi pikiran (bagi penulis) dalam ragam bahasa tulis. Jadi, bagi pembaca, tanda baca berfungsi untuk membantu pembaca dalam memahami jalan pemikiran penulis; sedangkan bagi penulis, tanda baca berfungsi untuk membantu menjelaskan jalan bagi penulis supaya tulisannya (karangannya) dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.
Beberapa kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan tanda baca, khususnya tanda koma.
1. Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat
Ada kecenderungan penulis menggunakan tanda koma di antara subyek dan predikat kalimat, jika nomina subjek mempunyai keterangan yang panjang. Penggunaan tanda koma itu tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh tanda koma dari predikat, kecuali pasangan tanda koma yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
Contoh : Rudi Hartono, yang pernah menjuarai All England delapan kali, menjadi pelatih PBSI.
Penggunaan tanda koma dalam contoh-contoh berikut tidak benar :
a. Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
b. Kesediaan negara itu untuk membeli gas alam cair (LNG) Indonesia sebesar dua juta ton setiap tahun, tentu merupakan suatu penambahan baru yang tidak sedikit artinya dalam penerimaan devisa negara.

Unsur kalimat yang mendahului tanda koma dalam kedua contoh di atas adalah subyek, dan unsur kalimat yang mengiringi tanda koma itu (secara berturut-turut diharapkan, merupakan) adalah predikat. Oleh karena itu, penggunaan tanda koma itu tidak benar. Kedua kalimat itu dapat diperbaiki dengan menghilangkan tanda koma itu.
2. Tanda Koma di antara Keterangan dan Subyek
Selain subyek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subyek kalimat. Padahal, meskipun panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu, pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar.
Contoh :
a. Dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, kita akan mengadakan sayembara mengarang tingkat SMA.
b. Dengan kemenangan yang gemilang itu, pemain andalan kita dapat memboyong piala kembali ke Tanah Air.

Unsur kalimat yang mendahului tanda koma itu adalah keterangan yang bukan merupakan anak kalimat meskipun panjang. Oleh karena itu, tanda koma tersebut dihilangkan, kecuali jika penghilangan tanda koma itu akan menimbulkan ketidakjelasan batas antara keterangan dan subyek.
Contoh :
Dalam pemecahan masalah kenakalan anak kita memerlukan data dari berbagai pihak, antara lain dari pihak orangtua, sekolah, dan masyarakat tempat tinggalnya.

3. Tanda Koma di antara Predikat dan Objek
Objek yang berupa anak kalimat juga sering dipisahkan dengan tanda koma dari predikat. Pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar karena obyek tidak dipisahkan dengan tanda koma dari predikat.
Contoh :
a. Ibu tidak menceritakan, bagaimana si Kancil keluar dari sumur jebakan itu
b. Kami belum mengetahui, kapan penelitian itu akan membuahkan hasil.

Di antara obyek dan predikat tidak digunakan tanda koma, kecuali tanda koma yang mengapit keterangan yang berupa anak kalimat atau tanda koma yang memisahkan kutipan dari predikat induk kalimat.
Contoh :
a. Pejabat itu menegaskan, ketika menjawab pertanyaan wartawan, bahwa kenaikan harga sembilan bahan pokok akan ditekan serendah-rendahnya.
b. Seorang pedagang mengatakan, sambil melayani pelanggannya, bahwa naiknya harga barang-barang sudah dari agennya.

Penggunaan tanda koma tidak dibenarkan jika obyek kalimat itu bukan kutipan langsung, seperti dalam contoh berikut.
Contoh : Tokoh tiga zaman itu menegaskan, perkembangan teknologi melaju terlalu cepat dalam dua dasawarsa terakhir ini.

B. Koreksi Kesalahan Alinea
Pada karangan mahasiswa sering dijumpai alinea yang kurang baik. Di samping itu, banyak juga mahasiswa yang mengakui bahwa mereka mendapat kesulitan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya.
Berikut prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam membuat alinea:
1. buatlah alinea yang mengandung satu ide pokok dengan penjelasan yang memadai.
2. jelaskanlah ide pokok tersebut dengan kalimat-kalimat efektif, dan pemilihan kata/istilah tepat, serta ejaan yangn benar.
3. memisahkan ide pokok yang berbeda, namun masih berkaitan erat dengan ide pokok pada alinea sebelumnya. Dan tuliskan ide pokok tersebut pada alinea berikutnya disertai dengan penjelasannya.
4. ide /gagasan tersebut harys nenggunakan perangkat kalimat yang padu, runtun, dan koheren.
5. perhatikan juga kesinambungan ide antara alinea dan kesinambungan ide dari alinea pertama sampai alinea terakhir.
6. tempatkan ide pokok pada awal atau bagian akhir alinea.
7. mengembangkan ide pokok dengan menggunakan salah satu metode sebagai berikut:
a. ide dikembangkan dengan mengemukakan pernyataan yang berupa fakta.
b. Ide dikembangkan dengan mengemukakan contoh.
c. Cara analogi dapat juga digunakan untuk mengembamgkan ide dalam linea.
d. Membandingkan dua ide bawahan denga mengemukakan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya.
e. Pola pikir induktif atau deduktif dapat juga digunakan dalam pengembangan ide dalam alinea.
f. Mengemukakan alasan suatu kejadian menuju pada akibat atau sebaliknya.
g. Penguraian suatu peristiwa secara kronologis.
h. Ide dikembangkan secara deskriptif tentang suatu keadaan.

Contoh Paragraf yang salah.
Sistem pondasi cakar ayam penemuan almarhum Prof. Sedyatmo yang terkenal akhir-akhir ini di kalangan Internasional, terutama di negara Asean karena dipakai untuk membagun berbagai struktur di atas tanah lembek.
Koreksi paragraf tersebut:
Sistem pondasi cakar ayam dipakai untuk membangun berbagai struktur di atas tanah lembek. Ini didasarkan atas penemuan almarhum Prof. Sedyatmo.

C. Koreksi Kesalahan Kalimat
1. Kesalahan kalimat
a. Kesalahan intrernal
Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :
1. Dengan pemakaian pupuk urera pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
2. Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan catatan kegiatan.

Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu.
Pada kalimat (1) jika dipertanyakan dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman?, jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan kalimat siapa yang mendapatkan dua macam instrumen? Maka jawaban tidak dapat dicari, jawaban terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua informan jika kalimat di ubah menjadi Semua informan mendapatkan dua macam instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.
b. Kesalahan Eksternal
Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal di ukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Contoh :
Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang termasuk dalam daerah Kabupaten Malang. Daerah Malang yang sejuk terdiri dari pegunungan-pegunungan kecil.

Dua buah kalimat paragraf tersebut benar secara internal, tetapi salah secara eksternal, karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam paragraf.
2. Membetulkan kesalahan kalimat
ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :
a. Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali dengan kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini.
1. Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan
1. menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.
Jadi kemugkinan pembetulan kalimat di atas adalah :
1. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran masuk desa.
b. Kalimat dengan objek berkata depan
kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek.
Sebagai contoh:
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.

Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (1) dan tentang pada kalimat (2).
Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya:
Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan serupa dengan.

c. Konstruksi pemilik kata depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
Kebersihan lingungkungan adalah kebutuhan dari warga
Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.
Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks), misalnya :
Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga-harga barang elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku sepeti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit.
d.. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan.
Contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan sampai berjam-jam
Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan orang lain, misalnya Joni.
Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan Joni.
Demikian pula kalimat (2), di samping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat (2) menjadi :
Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan dengan para pakar.

e. Penempatan yang salah kata aspek pada kalimat pasif berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomian + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal. Kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan aspek diantara pronominal dengan verba atau dalam pola : “pronominal + aspek + verba dasar”. Contoh :
Saya sudah katakan bahwa…
Bentuk seperti contoh di atas dapat dibentulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan pronominal menjadi :
sudah saya katakan bahwa…

f. Kesalahan pemakaian kata sarana
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata depan tersebut sering dikacaukan, misalnya :
Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani (pada saat)
Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru (ke dalam)
Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI (di)
Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena ketidaksesuaian antara pemakaian kata penghubung dan makna hubungan antar klausanya,
Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum
Rapat hari ini ditunda sebab perserta tidak memnuhi kuorum

D. Cara Membuat Ringkasan Teks
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah dalam yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuatan ringkasan. Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur :
1. Membaca naskah asli
Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama
3. mengadakan reproduksi
yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.
Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan juga agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian gagasan yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.
e) Menentukan panjang ringkasan.
Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yangn harus ditulisnya.
Contoh ringkasan teks.
Teks 1.
Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan
bus betul-betul menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena
lebih dari separuh calon pemudik diperkirakan akan terangkut oleh bus.
Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta dan sekitarnya
diperkirakan menggunakan jasa KA

teks diatas dapat dirigkas menjadi.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus betul-betul
menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari separuh calon pemudik
diperkirakan akan terangkut oleh bus. Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta .

ETIKA MURID DALAM PROSES PEMBELAJARAN MENURUT ILMU PENDIDIKAN ISLAM

December 22, 2009

A. Niat Beribadah dalam Mencari Ilmu
1. Pengrtian
Niat menurut etimologi adalah bermaksud, sedangkan menurut terminologi adalah bermaksud atau menghendaki sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan. Atau dapat juga dikatakan niat adalah keinginan dan perbuatan secara bersama-sama. (Safinatun Naja:19)
Rosulullah SAW telah bersabda: “Innamal a’malu binniat” sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niat. Dari hadist ini kita tahu bahwa segala sesuatu tergantung niat, karena niat adalah pokok dari segala perbuatan. Bahkan ada satu hadist lain mengatakan dan menegaskan “banyak perbuatan duniawi yang dinilai baik, dan banyak perbuatan yang bersifat akhirat dinilai jelek karena niat yang jelek.
Oleh karena itu, sepantasnya seorang mahasiswa muslim harus berniat dalam mencari ilmunya sebagai berikut:
a. Mencari ridho Allah SWT
b. Menghilangkan kebodohan dalam dirinya
c. Menghidupkan agama Islam
d. Menegakkan dan mengkokohkan agama Islam dengan ilmu.

2. Perintah Mencari Ilmu
Selain di dalam Al-Quran, Rosulullah SAW telah bersabda: “Tholabul ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat” (Mukhtar Hadist). Dari hadist di atas sudah jelas bahwa belajar atau mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimat.
Dalam hadist lain juga menjelaskan “Uthlubul ilma walao Bisshin” carilah ilmu walaupun ke negeri Cina. Dari hadist ini timbul beberapa penafsiran para ulama, diantaranya ada yang menafsirkan bahwa kita harus belajar atau mencari ilmu walaupun ilmu itu berada di lingkungan non muslim.
Dari kedua sumber hukum Islam tersebut di atas sudah jelas bahwa keduanya memerintahkan kepada kita untuk mencari ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu darigama, dan ilmu manakah yang harus di prioritaskan dalam mencarinya. Dalam hal ini, seyogyanya bagi para pelajar muslim untuk berniat beribadah dalam nencari ilmu.

B. Memilih Ilmu, Guru dan Teman
1. Memilih Ilmu
Sudah seyogyanya sebagai seorang mahasiswa harus bisa memilih ilmu yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dan ilmu yang harus dipilih serta diprioritaskan dari sekian banyak ilmu tersebut adalah ilmu yang benar-benar dia butuhkan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
Adapun ilmu yang harus diprioritaskan bagi mahasiswa muslim diantaranya adalah ilmu ushuluddin (ilmu tauhid).

2. Memilih Guru
Salah satu faktor keberhasilan seorang mahasiswa dalam mencapai tujuannya untuk mendapatkan ilmu, yaitu mereka harus memilih guru (dosen) yang berkualitas dan propesional serta berakhlak mulia. Karena itu akan sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan seorang mahasiswa dalam belajar.
Adapun ciri-ciri guru yang harus dipilih adalah sebagai berikut:
a. Guru yang banyak ilmunya
b. Guru yang memiliki sifat wara’
c. Guru yang usianya lebih tua

Selain itu, menurut H. Mubangid bahwa syarat untuk menjadi pendidik/ guru yaitu:
a. Dia harus orang yang beragama.
b. Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama.
c. Dia tidak kalah dengan guru sekolah umum lainnya dalam membentuk warga nagara   yang demokratis dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa dan tanah air.
d. Dia harus memiliki perasaan panggilan murni.

Sedangkan menurut Team Penyusun Buku Teks IPI merumuskan bahwa syarat untuk menjadi guru agama ialah; bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani, berakhlak baik, bertanggung jawab dan berjiwa sosial. Adapun jenis kriteria alhlak yang dituntut antara lain:
a) Mencintai jabatannya sebagai guru.
b) Bersikap adil terhadap semua muridnya.
c) Guru harus wibawa.
d) Berlaku sabar dan tenang.
e) Guru harus gembira.
f) Guru harus bersikap manusiawi.
g) Bekerja sama dengan guru-guru lain.
h) Bekerja sama dengan masyarakat.
(Nur Uhbiyati, 2005: 74-75)

3. Memilih Teman
Selain guru, faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan seorang mahasiswa dalam mencapai tujuannya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat adalah teman (sahabat). Oleh karena itu , mereka harus memilih siapa yang pantas (yang seharusnya) dijadikan teman (sahabat).
Di dalam kitab “Ta’limul Muta’alim” disebutkan ciri-ciri teman yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam mencari ilmu atou belajar adalah sebagai berikut:
a. Berteman dengan orang yang memiliki sifat wara’.
b. Berteman dengan orang yang pintar, jenius dan istiqomah.
c. Berteman dengan orang yang rajin, disiplin dan kreatif.
Betapa pentingnya memilih teman di waktu belajar, sebab teman adalah salah satu orang yang akan mempengaruhi keberhasilan belajar kita. Hal ini bersumber dari hadist Rasulullah SAW “Kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah” setiap yang dilahirkan semuanya dalam keadaan fitrah. Jadi, peran teman di dalam belajar sangatlah mempengaruhi.

C. Menghormati Ilmu dan Ahli Ilmu
Seorang pelajar tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecual harus menghormati ilmu dan sang pengajar ilmu. Karena ada satu kaidah Arab mengatakan “Sesungguhnya tidak akan mendapatkan sesuatu orang yang mengharapkan sesuatu kecuali dengan adanya rasa hormat terhadap ilmu dan ahlinya.”
Oleh karena itu, seorang mahasiswa dalam melaksanakan aktifitasnya yaitu belajar harus bisa menghormati para dosennya.
Diantara ciri menghormati dosen atou ahli ilmu adalah sebagai berikut:
a. Tidak berkata dengan kata-kata yang akan nenyinggung atou menyakiti hati dosen.
b. Jangan bertanya apapun sebelum dosen memberikan kesempatan atou mengijinkan untuk bertanaya.
c. Tidak boleh berjalan di depan dosen (mendahuluinya).
d. Menghormati keluarganya dan lain-lain.

Sebagai contoh yang kongkrit, ada seorang pelajar yang mungkin dapat dikatakan paling pintar pada waktu itu (waktu belajar), namun sayang si pelajar tersebut tidak mendapatkan ilmu yang berkah (kurang bermanfaat) dikarenakan kurang etika kepada seorang guru. Itu membuktikan bahwa sangatlah penting bagi seorang pelajar atau mahasiswa mempunyai etika dalam mencari ilmu, baik itu ilmu agama ataupun ilmu umum lainnya.

D. Sungguh-sungguh dan Tidak Pernah Bosan dalam Mencari Ilmu
Diantara cara untuk menjadi mahasiswa yang berkah (mendapatkan ilmu yang bermanfaat) adalah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, sebab tanpa adanya rasa sungguh-sungguh dalam mencari ilmu seorang mahasiswa tidak akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Dan apabila sudah memiliki rasa kesungguhan yang  melekat, maka dia akan selalu melaksanakan apa yang diinginkannya.
Sebagaimana Rosulullah SAW bersbda: “Barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu, maka dia harus memiliki 6 (enam) faktor di bawah ini. Yaitu :
a) Memiliki kecerdasan / kepintaran.
b) Bersunguh-sungguh.
c) Memiliki sifat sabar.
d) Mempunyai biaya (bekal).
e) Memiliki guru yang berkualitas dan propesional.
f) Adanya waktu yang cukup lama.

Di samping itu, mahasiswa yang bersungguh-sunguh dalam mencari ilmu akan timbul rasa tidak pernah bosan dalam mencari ilmu dan yang lainnya. Dan hal itu akan menunjang mereka untuk menjadi mahasiswa yan berkah, dalam artian memilki ilmu yng bermanfaat untuk dirinya sendiri dan memberi kemanfaatan kepada orang lain.

E. Adab (sopan santun) dalam Belajar
Agar anak didik itu memperoleh ilmu yang bermanfaat diperlukan adab atau tatakrama untuk mengikuti pendidiksan Islam.
Menurut Imam Al-Ghajali adab seorang pelajar mengikuti pelajaran itu ada beberapa  macam, antara lain:
a. Hendaklah seorang pelajar mengemukakan cita-cita yang suci murni dan dipenuhi oleh semangat yang suci, terhindar dari sifat yang tidak senonoh, dan sebagai pelajar hendaklah ia mempunyai budi pekerti yang baik.
b. Hendaklah tidak berhubungan dengan urusan lain, hendaklah pula meninggalkan   tanah air dan keluarganya ketika mununtut ilmu.
c. Jangan menyombongkan diri karena ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jangan menaruh purba sangka kepada guru yang mengajar.
d. Hendaklah hati-hati mendengar nasihat guru sebagaimana orang sakit memperhatikan nesihat dokternya. Dibagian ini Al-Ghajali amat memperkeras fatwanya, diterangkannya supaya pelajar itu harus mempunyai dsiplin kepada dirinya, patuh mengikuti perintah guru.
e. Hendaklah seorang pelajar itu tetap dan tenang belajar menghadapi seorang guru.
f. Janganlah ia meninggalkan satu mata pelajaran yang hendak dipelajarinya, sebelum dimilikinya pelajaran itu. Sebelum ia sanggup membahas pelajaran itu sedalam-dalamnya.
g. Janganlah hendak mempelajari sekalian ilmu-ilmu pengetahuan itu, karena umur manusia tidak akan cukup untuk mempelajarinya, sebab itu ambilah ilmu yang lebih penting dahulu.
h. Hendaklah tujuan pendidikan itu dihadapkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. yaitu dengan jalan berbakti kepada-Nya.
i. Hendaklah pelajar mengetahui perbandingan faedah tiap-tiap mata pelajaran dengan ilmu-ilmu yang lain.
(Nur Uhbiyati, 2005: 107-108)

Menurut Prof. M. Athiyah mengemukakan seorang siswa yang sedang belajar wajib memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
a. Sebelum belajar, siswa itu harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, karena belajar itu dianggap sebagai ibadah.
b. Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadilah, mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan maksud menonjolkan diri.
c. Bersedia mencari ilmu, termasuk meninggalkan keluarganya dan tanah air.
d. Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya.
e. Jangan merepotkan guru dengan banyak pertanyaan, jangan berjalan di hadapannya dan jangan duduk di tempat dudunya.
f. Bersungguh-sungguh dan tekun belajar.
g. Jiwa saling mencintai dan persaudaraan haruslah menyinari pergaulan antara siswa sehingga merupakan anak-anak yang sebapak.
h. Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada gurunya.
i. Hendaklah siswa tekun belajar, mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh.

Syekh Az-Zarnuji dalam kitab “Ta’limul Muta’alim” menerangkan beberapa sifat dan tugas para penuntut ilmu:
a. Tawadu’ sifat sederhana, tidak sombong tidak pula rendah diri.
b. Iffah, sifat yang menunjukan rasa harga diri yang menyebabkan seseorang terhindar dari perbuatan yang tida patut.
c. Tabah, tahan dalam menghadapi kesulitan pelajaran dari guru.
d. Sabar, tahan terhadap godaan nafsu.
e. Cinta ilmu dan hormat kepada guru dan kelurganya.
f. Sayang kepada kitab, menyimpan kitab dengan baik.
g. Hormat kepada sesama penuntut ilmu dan tamalluk kepada guru dan kawan untuk menyadap ilmu dari mereka.
h. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan memanfaatkan waktu sebaik- baiknya.
i. Teguh pendirian dan ulet dalam menuntut ilmu dan mengulangi pelajaran.
j. Wara’, ialah sifat menahan diri dari perbuatan yang terlarang.
k. Punya cita-cita yang tinggi dalam mengejar ilmu pengetahan.
l. Tawakal, makssudnya menyerahkan kepada Tuhan segala perkara.
Bertawakal adalah akhir dari proses kegiatan dan ikhtiar seorang muslim untuk mengatasi segala urusannya.
(Nur Uhbiyati, 2005: 110)

F. SIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang pelajar atau mahasiswa dalam mencapai tujuannya yaitu mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun memberi kemanfaatan bagi orang lain, mereka harus melaksanakan kelima poin tersebut di atas, yaitu:

o Niat beribadah dalam mencari ilmu
o Memilih ilmu, guru dan teman
o Menghormati ilmu dan ahli Ilmu
o Sungguh-sungguh dalam belajar
o Adab (sopan santun) dalam belajar

G. SARAN
Saran saya kepada semua pihak kampus khususnya kepada teman-teman terutama kepada diri sendiri mulai sekarang marilah kita laksanakan etika belajar menurut pandangan islam, sebab kita semua tahu bahwa mahasiswa sekarang sudah keluar dari etika kehidupan khususnya etika seorang pelajar dalam mencari ilmu, umumnya di setiap perbuatan yang memang membutuhkan etika.
Namun memang sangat sulit untuk melaksanakan semua hal-hal yang telah penulis sampaikan, akan tetapi ada kaidah Arab mengatakan “man jadda wa jada“ barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Hello world!

December 22, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!